Memasuki tahun 1994, almarhum kembali membina rumah tangga bersama almarhumah Patrisia Ulan. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai empat orang anak: Januarius Min Tabati, Frederikus Jeck Tabati, Dominikus Savio Tabati (alm), dan Elisa Adriana Tabati, serta cucu-cucu yang menjadi kebanggaan dan sumber kebahagiaannya.
Dedikasinya di dunia pendidikan begitu besar. Sebagai seorang guru, ia mengabdikan diri di SDK Lurasik, SD Berseon, hingga SDK Yaperna Jak. Hingga pensiun pada tahun 2005, ia dikenal sebagai pendidik yang sabar, tegas, dan mengajar dengan hati. Bagi banyak murid, ia bukan sekadar guru, melainkan sosok yang membentuk karakter dan masa depan.
Tak hanya di bidang pendidikan, almarhum juga dikenal sebagai penjaga budaya. Kecintaannya pada tradisi melahirkan karya tarian Likurai khas Biboki serta tarian gong dari bambu, yang sarat makna perjuangan dan semangat kebersamaan. Karya tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat di wilayah Miomaffo Timur.
Memasuki usia senja, kesehatannya mulai menurun. Sejak 2019, ia berjuang melawan stroke ringan dan tekanan darah tinggi. Tahun 2021, ia pindah ke Kupang untuk menjalani pengobatan bersama istri tercinta. Namun, pada tahun 2022, sang istri lebih dahulu dipanggil Tuhan—sebuah kehilangan yang sangat mendalam baginya.














