Merasa ada kejanggalan, pihak sekolah kemudian mendatangi panitia seleksi untuk meminta penjelasan. Namun, respons yang diterima dinilai tidak memuaskan.
“Panitia menyampaikan bahwa ini sepenuhnya kewenangan mereka dan sekolah tidak perlu tahu. Padahal kami hanya meminta transparansi, setidaknya mengetahui kuota agar bisa menyesuaikan jumlah peserta yang dikirim,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti dugaan ketidaksesuaian dalam proses penilaian. Beberapa siswa yang dinilai memiliki kemampuan fisik baik justru tidak lolos, sementara peserta lain yang dianggap kurang memenuhi kriteria malah dinyatakan lulus.
“Ada yang disebut memperoleh nilai hingga 90 untuk kesamaptaan. Menurut saya hal itu sulit diterima dan patut dipertanyakan,” tegasnya.
Kejanggalan lain juga terlihat pada perubahan hasil pengumuman. Ia menyebut sempat terjadi perbedaan data yang oleh panitia disebut sebagai kesalahan pengetikan.
“Awalnya satu siswa kami dinyatakan tidak lolos, tetapi kemudian namanya muncul kembali. Panitia menyebut itu kesalahan ketik, namun menurut saya bukan sekadar kesalahan, melainkan ada unsur kesengajaan,” katanya.
