Opini

Surat untuk Mama: Ketika Bahasa Anak Menjadi Kritik Ekonomi

Reporter: Alfonso |  Editor: Admin
Surat untuk Mama: Ketika Bahasa Anak Menjadi Kritik Ekonomi

Negara absen, pasar tidak ramah, lapangan kerja sempit—tetapi yang terlihat oleh anak hanyalah satu: ibunya tidak mampu memberi. Maka kemarahan dan kesedihan yang seharusnya ditujukan pada sistem ekonomi, justru beralih ke ruang domestik, ke dapur rumah, ke piring kosong, ke sosok mama.

Surat YBR, dengan bahasa daerah yang sederhana, justru lebih jujur daripada banyak laporan statistik kemiskinan. Ia tidak berbicara tentang persentase, grafik, atau indeks kemiskinan. Ia berbicara tentang rasa: rasa kekurangan, rasa lelah, rasa ingin pergi, bahkan rasa ingin menghilang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Dalam konteks ini, “Molo Mama” bukan hanya berarti “selamat tinggal mama”, tetapi bisa dibaca sebagai “selamat tinggal pada hidup yang tidak memberi harapan”. Ini adalah bahasa sunyi dari kelompok masyarakat yang jarang terdengar: anak-anak miskin yang tumbuh dalam sistem ekonomi yang tidak berpihak.

Maka surat ini, sesungguhnya, adalah kritik ekonomi paling telanjang: bukan lewat teori, bukan lewat jargon, tetapi lewat kalimat polos seorang anak yang merasa hidupnya terlalu berat untuk dijalani. Dan justru karena kepolosannya, kritik itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Exit mobile version