Opini

Surat untuk Mama: Ketika Bahasa Anak Menjadi Kritik Ekonomi

Reporter: Alfonso |  Editor: Admin
Surat untuk Mama: Ketika Bahasa Anak Menjadi Kritik Ekonomi

Namun pada lapisan psikologis, sebutan “mama pelit” menjadi sangat penting. Anak kecil tidak mengenal istilah “kemiskinan struktural”, “ketimpangan ekonomi”, atau “ketidakadilan distribusi”. Yang ia kenal hanya satu: ketika ia lapar, tidak ada makanan; ketika ia ingin sesuatu, ibunya tidak bisa memberi. Maka secara naluriah, figur ibu menjadi sasaran kekecewaan. Bukan karena ibu benar-benar pelit, tetapi karena ibu adalah wajah terdekat dari realitas kekurangan itu sendiri.

Di sinilah surat ini berubah menjadi dokumen sosial. Kalimat penutup dalam penjelasan teks—bahwa yang sebenarnya pelit bukan sang ibu, melainkan keadaan—menjadi kunci pembacaan ekonomi. Anak ini tidak sedang mengkritik ibunya, tetapi tanpa sadar sedang menuding sistem kehidupan yang membuat ibunya tidak punya apa-apa untuk dibagi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Secara ekonomi, surat ini merepresentasikan wajah kemiskinan struktural di banyak daerah: keluarga yang hidup pas-pasan, pekerjaan informal, pendapatan tidak menentu, harga kebutuhan pokok yang terus naik, sementara akses pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial sangat terbatas. Dalam kondisi seperti itu, ibu sering menjadi “tameng terakhir” yang menanggung semua kekurangan sistem.

Exit mobile version