Dari Tekad Jadi Tindakan
Target besar sudah digariskan. Kupang yang tahun lalu masih kekurangan 5.000 ton beras, kini diarahkan menuju swasembada pangan, bahkan berpotensi menjadi penyuplai untuk wilayah sekitar. Semua itu dimulai dari lahan-lahan kecil yang kini dibuka kembali, irigasi yang diperbaiki, dan kemitraan yang dibangun dari tingkat desa.
Yang ikut bergerak bukan cuma petani, tapi juga birokrasi, pemuda, dan komunitas lokal. Semua bergerak seperti orkestra diam: masing-masing menjalankan perannya, tanpa hingar-bingar, tapi menuju satu arah.
Simbol Awal, Bukan Akhir
Jika panen ini dianggap sebagai simbol, maka simbol itu berbicara banyak. Ia berbicara tentang:
-
Tekad: bahwa Kupang tidak ingin terus jadi penerima bantuan pangan.
-
Arah: bahwa pembangunan dimulai dari desa, bukan dari pusat kota.
-
Masa depan: bahwa pangan adalah prioritas, bukan sekadar program.
Dan mungkin yang paling penting: Kupang sedang membangun budaya kerja baru. Budaya yang tidak membutuhkan kamera untuk memulai kerja. Budaya yang tidak menjadikan popularitas sebagai indikator keberhasilan.
Kupang bergerak. Tanpa banyak bicara. Tapi dengan niat yang tidak main-main.
