Di NTT, menuntaskan 4 persen terakhir bisa jauh lebih sulit daripada mencapai 96 persen sebelumnya. Biaya tinggi, akses terbatas, dan kondisi geografis menjadi tantangan nyata. Di sinilah komitmen pembangunan diuji.
Setidaknya ada tiga tantangan utama menuju “NTT Terang 2030”.
Pertama, jangkauan. Negara harus memastikan masyarakat di wilayah paling terpencil tidak terus menjadi yang terakhir. Pembangunan tidak boleh tunduk sepenuhnya pada efisiensi ekonomi, tetapi harus berpihak pada keadilan.
Kedua, mutu akses. Listrik tidak cukup hanya tersedia, tetapi harus andal, terjangkau, dan benar-benar meningkatkan kualitas hidup. Ada perbedaan besar antara sekadar “teraliri listrik” dan “menikmati listrik secara layak”.
Ketiga, keberlanjutan. Banyak proyek energi di daerah terpencil menghadapi persoalan perawatan. Tanpa tata kelola yang baik, pembangunan berisiko menjadi proyek sesaat tanpa dampak jangka panjang.
Dalam konteks ini, energi baru terbarukan menjadi pilihan strategis. NTT memiliki potensi besar—matahari, angin, biomassa, dan sumber energi lainnya. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada tata kelola, teknologi yang tepat, dan keberlanjutan sistem.
