NTT bukan wilayah miskin energi. Ia adalah wilayah yang menunggu untuk dikelola dengan cara yang tepat.
Karena itu, agenda “NTT Terang 2030” harus dilihat sebagai gerakan bersama, bukan sekadar proyek kelistrikan. Pemerintah pusat telah memberi arah, pemerintah daerah menunjukkan komitmen, dan pelaksana teknis bekerja di lapangan. Kini yang dibutuhkan adalah konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk menjangkau yang paling terakhir.
Dalam suasana Nyepi, refleksi ini menjadi semakin relevan. Hening bukan sekadar berhenti dari aktivitas, tetapi ruang untuk menata kembali arah pembangunan. Ia mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama, manusia adalah satu keluarga, dan harmoni adalah tujuan.
Dari sana, pertanyaan mendasar muncul: apakah pembangunan hanya mengejar angka, atau benar-benar menghadirkan keadilan?
Elektrifikasi bukan sekadar menghadirkan cahaya. Ia adalah bentuk kehadiran negara, tanda keberpihakan, dan wujud keadilan sosial. Terang bukan hanya soal listrik—ia adalah simbol bahwa tidak ada warga yang ditinggalkan.
