Lebih jauh, MBG juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal. Banyak daerah memiliki sumber pangan bergizi tinggi yang relatif murah: ikan, telur, jagung, kacang-kacangan, hingga daun kelor. Jika program mengutamakan bahan pangan lokal, maka efeknya ganda—memperbaiki gizi anak sekaligus memperkuat petani dan nelayan.
Namun, pendekatan ini sering berhadapan dengan sistem pengadaan terpusat yang lebih praktis secara birokratis. Ketika efisiensi administratif lebih diutamakan daripada keberlanjutan nutrisi dan ekonomi lokal, MBG berisiko menjadi proyek konsumsi besar tanpa dampak pembangunan jangka panjang.
Standar dan Pengawasan
Pada akhirnya, pertanyaan tentang MBG adalah pertanyaan tentang keberanian menetapkan standar.
Apakah negara siap menerapkan standar gizi ketat dengan pengawasan serius? Apakah indikator keberhasilan akan bergeser dari jumlah porsi ke perbaikan status kesehatan?
Indonesia tidak membutuhkan kebijakan yang hanya memastikan anak kenyang hari ini. Indonesia membutuhkan kebijakan yang menjamin generasi mudanya tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. MBG dapat menjadi instrumen menuju tujuan itu—tetapi hanya jika orientasinya jelas: bukan sekadar makan, melainkan pemenuhan gizi.
