Opini

Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil

Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil
POTRET EGIDIUS RONIKUNG

Di sinilah nilai Idul Fitri menjadi relevan. Idul Fitri mengajarkan pemulihan relasi, bukan penaklukan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh dibangun di atas pengorbanan yang tidak adil. Maka, transisi energi yang mengabaikan ruang hidup warga, merusak sumber air, atau melemahkan kohesi sosial, sejatinya telah kehilangan dasar etiknya.

NTT tentu tidak bisa menutup mata terhadap krisis iklim dan kebutuhan untuk beralih dari energi fosil. Transisi energi adalah keharusan. Namun justru karena penting, maka ia harus dijalankan dengan cara yang benar dan adil.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Yang dibutuhkan bukan pilihan sempit antara pembangunan energi atau perlindungan ruang hidup. Yang dibutuhkan adalah transisi energi yang tumbuh dari ruang hidup itu sendiri—bukan datang sebagai kekuatan yang menguasainya.

Artinya, paradigma pembangunan energi harus diubah secara mendasar. Pembangunan tidak boleh lagi dimulai dari logika proyek semata. Sebaliknya, ia harus berangkat dari pembacaan yang jujur terhadap kondisi wilayah: ekologi, sumber air, fungsi pangan, risiko bencana, serta nilai sosial dan budaya yang hidup di dalamnya.

Exit mobile version