Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan yang layak tanpa diskriminasi wilayah.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak di perbatasan masih diposisikan sebagai “warga pinggiran” dalam pembangunan nasional.
Lebih memprihatinkan lagi, kondisi ini terjadi di wilayah perbatasan—beranda terdepan negara yang seharusnya menjadi simbol kedaulatan dan perhatian pemerintah.
Jika di wilayah ini saja negara belum mampu menghadirkan pendidikan yang layak, maka wajar jika muncul pertanyaan tentang keseriusan dalam membangun dari pinggiran, sebagaimana yang selama ini digaungkan.
Di balik keterbatasan tersebut, ada satu hal yang patut diapresiasi: semangat para siswa dan dedikasi para guru. Mereka tetap bertahan, tetap mengajar, dan tetap belajar dalam kondisi yang jauh dari ideal. Pengabdian para guru di wilayah ini bukan sekadar profesi, melainkan panggilan kemanusiaan yang luar biasa.
Namun, kita tidak boleh terus menerus mengandalkan semangat tanpa dukungan nyata. Semangat tidak bisa menggantikan bangunan yang layak. Dedikasi tidak bisa menjadi alasan untuk membiarkan ketimpangan terus terjadi.
