Mereka mengumpulkan sekitar 14.600 kutu dan membaginya menjadi beberapa kelompok berdasarkan lokasi dan spesies sehingga mereka dapat dianalisis sebagai satu kelompok.
Sekitar 2% dari kelompok tersebut dinyatakan positif mengandung materi genetik WELV.
Lima spesies kutu dapat membawa virus WELV, spesies kutu Haemaphysalis concinna paling sering positif mengidap WELV.
WELV juga terdeteksi pada sejumlah kecil domba, kuda dan babi yang diteliti, serta pada beberapa hewan pengerat yang disebut Transbaikal zokor (Myospalax psilurus).
Materi genetik WELV tidak terdapat pada anjing atau sapi, tetapi beberapa hewan tersebut membawa antibodi terhadap virus. Ini adalah tanda bahwa sistem kekebalan tubuh mereka, pada titik tertentu, telah membangun pertahanan terhadap WELV.
Tim juga menganalisis darah petugas kehutanan setempat. Para peneliti menemukan bahwa 12 dari 640 sampel mengandung antibodi terhadap virus WELV. Selain itu, mereka juga melakukan tes virus di empat rumah sakit di timur laut China.
Para peneliti menguji virus WELV pada ratusan pasien yang mengalami demam sebulan setelah gigitan kutu. Hasilnya, 20 pasien dinyatakan positif WELV, dengan rincian 3 pasien koinfeksi dengan penyakit tick-borne lainnya, sedangkan 17 pasien lainnya hanya terinfeksi WELV.
Orang yang terinfeksi WELV memiliki gejala umum, seperti demam, pusing, sakit kepala, malaise, dan nyeri punggung, serta mual, muntah, dan diare. Hasil laboratorium menunjukkan tanda-tanda kerusakan jaringan dan pembekuan darah pada banyak pasien.
