Ia juga mengklaim bahwa pelayanan diberikan lebih cepat kepada warga dengan kebutuhan mendesak, khususnya ibu hamil dan warga yang sakit. Menurutnya, pelayanan tidak dibatasi oleh hari maupun jam kerja.
“Lebih-lebih yang meninggal, yang sakit. Jadi untuk selama ini untuk kantor desa ini tetap kami lakukan, gunakan. Tapi hanya satu hal, kami tidak 1×24 memang tidak di kantor desa, hanya ada waktunya. Kalau memang penilaian masyarakat seperti itu, ya memang pada saat jamnya tetap kami kasih keluar, tapi pelayanan itu kami jalani,” lanjutnya.
Sebelumnya, warga mengeluhkan bahwa kantor Desa Weepangali jarang dibuka secara rutin pada hari dan jam kerja. Mereka mengaku lebih sering mendapati kantor desa tertutup, kecuali saat kegiatan penyaluran bantuan sosial. Di luar kegiatan tersebut, pelayanan administrasi disebut di tidak berlangsung secara konsisten di kantor desa.
Menanggapi hal tersebut, Fransiskus kembali menegaskan bahwa pelayanan tetap berjalan penuh selama 24 jam, meski secara teknis tidak selalu dilakukan di kantor desa.
