“Tanggul ini sangat kuat. Musim kemarin kami tidak kebanjiran, hasil perkebunan kami pun aman,” ungkap Helmut.
Ia menjelaskan, sebelum tanggul dibangun, banjir kerap membawa kerugian bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pertanian lahan kering, terutama tanaman jagung dan sayur-sayuran. Banjir bukan hanya mengancam permukiman, tetapi juga menghanyutkan hasil panen yang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Helmut masih mengingat pengalaman pahit ketika dirinya bersama keluarga selesai memanen jagung. Hasil panen itu disimpan sementara di sebuah pondok untuk diangkut ke rumah keesokan harinya melalui gotong royong bersama keluarga.
Namun, pada malam hari ketika ia dan istrinya sedang makan, mereka mendengar suara seng dari bagian belakang rumah. Sang istri mengambil senter untuk memeriksa sumber suara tersebut. Mereka terkejut setelah mengetahui banjir telah datang, meskipun saat itu cuaca tidak sedang hujan.
Akibat kejadian tersebut, jagung yang disimpan di pondok hanyut terbawa arus banjir karena kawasan itu belum memiliki tanggul pelindung.
