Menurut ML, dirinya masih berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Ia setiap hari harus berjualan di pasar untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, terutama anak-anaknya.
“Kita ini termasuk orang miskin. Saya tiap hari harus berjualan untuk membantu meringankan anak-anak saya. Saya tinggal dengan anak, makanya saya berjualan untuk membantu. Bukan saya orang kaya,” tegasnya.
Ia mempertanyakan ukuran yang digunakan dalam menentukan seseorang masih layak atau tidak menerima bantuan.
Bagi ML, berjualan setiap hari bukan berarti dirinya sudah hidup berkecukupan. Justru, pekerjaan tersebut dilakukan karena kebutuhan hidup harus terus dipenuhi.
“Saya seharian jualan di pasar. Masa saya sudah dibilang kaya? Saya berjualan karena harus membantu kebutuhan anak-anak. Kalau tidak jualan, bagaimana kami memenuhi kebutuhan sehari-hari?” katanya.
ML menduga perubahan status penerima bantuan tersebut berkaitan dengan pemutakhiran data atau klasifikasi desil. Namun, ia berharap proses pendataan tidak hanya melihat data administratif, tetapi juga memperhatikan kondisi nyata masyarakat di lapangan.
