Transformasi Digital dan Masa Depan Kerja: Alarm Kesiapan Mahasiswa di Tengah Disrupsi Teknologi
Oleh: Wulan Putri Perdana Laia (Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, Universitas Kristen Indonesia)
Jakarta, RFC – Laju transformasi digital yang kian masif bukan lagi sekadar fenomena global, melainkan realitas yang secara langsung mengubah wajah dunia kerja. Kehadiran teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), big data, dan sistem otomatisasi telah mempercepat proses kerja sekaligus menggeser peran manusia dalam berbagai sektor industri.
Di satu sisi, digitalisasi menghadirkan efisiensi dan produktivitas tinggi. Namun di sisi lain, perubahan ini menjadi sinyal peringatan serius bagi dunia pendidikan, khususnya mahasiswa sebagai calon tenaga kerja. Banyak jenis pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif kini mulai tergantikan oleh mesin dan sistem berbasis teknologi, sehingga mempersempit peluang kerja bagi mereka yang tidak memiliki keterampilan adaptif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 memperkuat gambaran tersebut. Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia tercatat sebesar 4,85% atau sekitar 7,46 juta orang. Lebih mengkhawatirkan, tingkat pengangguran usia muda (15–24 tahun) menembus angka di atas 16 persen. Sementara itu, pengangguran lulusan perguruan tinggi masih berada di kisaran 5,39 persen—indikasi nyata adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
