Kondisi ini mengungkap persoalan klasik yang belum sepenuhnya terpecahkan: sistem pendidikan yang masih cenderung teoritis. Banyak mahasiswa lulus dengan bekal akademik yang kuat, tetapi minim pengalaman praktis. Akibatnya, ketika memasuki dunia kerja yang dinamis dan berbasis keterampilan, mereka kerap kesulitan beradaptasi.
Padahal, transformasi digital tidak hanya “menghapus” pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang baru. Profesi seperti data analyst, digital marketing specialist, content creator, hingga UI/UX designer kini menjadi tulang punggung ekonomi digital. Artinya, pasar kerja tidak menyusut, melainkan berevolusi dengan tuntutan kompetensi yang lebih spesifik dan relevan.
Dalam konteks ini, mahasiswa dituntut melakukan lompatan cara pandang. Tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik, mereka perlu menguasai keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi efektif, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas. Literasi digital serta kemampuan memahami teknologi juga menjadi prasyarat utama untuk tetap kompetitif.
