Sejumlah warga menyebut, pada kondisi tertentu mereka nekat menerobos arus Kali demi kebutuhan mendesak. Risiko keselamatan pun tak terelakkan. “Kami sering khawatir terjadi kecelakaan, apalagi kalau ada anak-anak atau orang tua,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Warga berharap pemerintah daerah tidak lagi menunda pembangunan jembatan. Mereka mendesak agar proyek infrastruktur tersebut masuk dalam skala prioritas, mengingat fungsinya yang strategis bagi konektivitas dan keselamatan masyarakat. “Kami tidak minta yang mewah. Cukup jembatan yang layak agar kami bisa beraktivitas dengan aman,” kata Fridolinus.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Belu terkait rencana pembangunan jembatan di lokasi tersebut. Namun warga menegaskan akan terus menyuarakan aspirasi mereka agar pemerintah segera mengambil langkah konkret.
Kondisi di Desa Renrua menjadi potret nyata tantangan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah perbatasan dan pedesaan. Tanpa intervensi serius, persoalan yang berulang setiap musim hujan ini dikhawatirkan terus menghambat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat setempat.
