Momentum itu menjadi pengingat bahwa perlindungan sosial bukan sekadar konsep dalam dokumen kebijakan, tetapi hadir nyata ketika keluarga kehilangan tulang punggung ekonomi.
Lebih menarik lagi, ahli waris penerima manfaat juga memperoleh pelatihan dasar pengemasan makanan melalui UPTD Balai Latihan Kerja Kabupaten Manggarai Barat.
Program ini menunjukkan perubahan paradigma perlindungan sosial. Bantuan tidak hanya diberikan dalam bentuk santunan, tetapi juga melalui pemberdayaan ekonomi agar keluarga mampu bangkit dan mandiri.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPJS, dunia usaha, dan lembaga pelatihan menjadi contoh bahwa pembangunan kesejahteraan membutuhkan kolaborasi yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Bagi NTT yang sebagian besar tenaga kerjanya berada di sektor informal, pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan.
Kesejahteraan masyarakat tidak cukup dibangun melalui bantuan sesaat, tetapi melalui perlindungan, peningkatan keterampilan, dan penciptaan peluang kerja yang berkelanjutan.
