Cobaan kembali datang di akhir tahun 2025 saat ia mengalami jatuh yang menyebabkan saraf terjepit pada tulang belakang. Kondisinya terus menurun hingga awal 2026, di mana ia lebih banyak terbaring dalam doa dan penyerahan diri.
Pada Maret 2026, ia sempat dirawat di Rumah Sakit Leona akibat kesulitan makan dan minum. Setelah sempat dipulangkan, kondisinya kembali memburuk pada 17 Maret 2026 dan harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, Tuhan berkehendak lain.
Ia pergi dalam diam, tanpa kata perpisahan.
Kepergian Gerardus Tabati bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia pendidikan dan budaya. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai pribadi yang sederhana, penuh kasih, dan setia dalam pengabdian.
Kini, ia telah beristirahat dalam damai. Namun nilai-nilai yang ia wariskan akan terus hidup—dalam hati anak, cucu, keluarga, dan semua orang yang pernah mengenalnya.
