“Selama ini saya dapat bantuan dari desa seperti ayam, WC, dan juga tempat air. Tapi untuk rumah, sampai sekarang belum ada,” tuturnya perlahan.
Meski bantuan tersebut diakui sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari, Mama Maria menegaskan bahwa hal yang paling mendesak bagi dirinya dan keluarga adalah memiliki tempat tinggal yang layak. Baginya, rumah bukan hanya sekadar tempat berteduh, tetapi juga menjadi simbol keamanan dan kenyamanan bagi keluarga.
Dengan suara lirih dan mata yang tampak berkaca-kaca, ia menyampaikan harapannya kepada pemerintah Kabupaten Belu agar dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi yang dialaminya.
“Saya hanya minta rumah layak huni. Kalau bisa pemerintah Kabupaten Belu melalui dinas terkait bisa membantu kami,” ungkapnya dengan penuh harap.
Pantauan langsung media Reformanews.com di lokasi menunjukkan bahwa rumah yang ditempati Mama Maria memang berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Bangunan tersebut terlihat sederhana, dengan beberapa bagian yang sudah mulai rusak. Dinding rumah tampak rapuh, sementara atapnya terlihat tidak lagi mampu memberikan perlindungan maksimal dari panas maupun hujan.
