Selain itu, Presiden menekankan pentingnya efisiensi anggaran, dengan memotong belanja untuk kegiatan yang tidak mendesak, seperti perayaan atau perjalanan dinas, agar dana tersebut bisa dialihkan untuk sektor-sektor produktif yang lebih mendesak.
Pemotongan anggaran untuk kegiatan non-esensial ini diperkirakan dapat menghemat hingga Rp20 triliun, yang kemudian akan dialokasikan untuk sektor pendidikan, kesehatan, serta pembangunan infrastruktur yang mendukung swasembada pangan dan energi.
“Dengan efisiensi anggaran yang ketat, kita dapat memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan kesejahteraan rakyat. Ini adalah cara kita berinvestasi untuk masa depan bangsa,” tegas Presiden.
Presiden Prabowo juga menambahkan bahwa salah satu fokus utama dalam anggaran 2025 adalah pencapaian swasembada pangan dan energi.
Ia menegaskan bahwa pada tahun 2025 Indonesia tidak akan lagi mengimpor beras, jagung, atau garam, serta akan mempercepat proses menuju swasembada energi. Keberhasilan dalam bidang ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan pangan dan energi dalam negeri.
