Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin hanya angka dalam daftar program. Namun bagi para orang tua di pelosok, bantuan itu adalah napas baru agar anak-anak mereka tetap bisa berjalan menuju sekolah tanpa dibayangi ketakutan akan biaya pendidikan.
Di hadapan para orang tua siswa, Paskalis berbicara dengan nada sederhana, jauh dari kesan pencitraan. Ia menegaskan bahwa jabatan yang dipercayakan rakyat kepadanya bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dipakai memperjuangkan kebutuhan masyarakat.
“Sebagai anggota DPRD, saya dipercaya masyarakat untuk menjadi perpanjangan tangan, mulut, dan telinga dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Pendidikan menjadi salah satu fokus perjuangan kami karena masyarakat membutuhkan bukti nyata, bukan sekadar janji,” ungkapnya.
Di balik keteguhan itu, tersimpan kisah hidup yang membentuk dirinya. Lahir di Kletek pada 12 April 1992 dari keluarga sederhana, Paskalis tumbuh dengan memahami betapa berat perjuangan orang tua di kampung demi menyekolahkan anak-anak mereka. Ia mengenal kesederhanaan bukan dari cerita, tetapi dari kehidupan yang pernah dijalaninya sendiri.
