Dari ujung perbatasan RI-RDTL, Ferross mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya mahasiswa dan aktivis, untuk tetap menjaga kualitas demokrasi dengan kritik yang sehat, terukur, dan bermartabat.
“Boleh kritis dalam pikiran, tapi jangan krisis dalam moral. Sebab ketika demokrasi kehilangan etika, yang runtuh bukan hanya pemimpin, tetapi martabat bangsa itu sendiri,” tutupnya.
