Di sinilah fase berikutnya menjadi relevan. Pada tahun 2024, orientasi pembangunan sepakbola Malaka bergeser lebih terstruktur ke pembinaan usia muda. Hasilnya konkret: PS Malaka U-13 menjuarai Soeratin Cup tingkat Provinsi NTT—kompetisi resmi yang menjadi barometer serius pembinaan sepakbola remaja di Indonesia.
Capaian itu tidak berhenti di tingkat regional. PS Malaka U-15 kemudian melangkah lebih jauh dengan meraih runner-up Piala Presiden U-15 di tingkat nasional. Bagi daerah dengan keterbatasan infrastruktur dan sumber daya, prestasi ini tidak bisa dipandang remeh. Ia menegaskan satu hal: talenta lokal Malaka mampu bersaing, asal diberi sistem dan ruang yang benar.
Jika ditarik benang merah, terlihat pola pembangunan yang jarang dimiliki banyak daerah: berjenjang, konsisten, dan tidak instan. Dari senior, turun ke usia muda, lalu diperkuat dengan struktur pembinaan. Ini bukan kebetulan, melainkan buah dari kombinasi kebijakan, pengelolaan, dan keberanian untuk berpihak pada anak muda.
