Bagi sebagian orang, kehadiran wakil rakyat di ruang publik selalu memunculkan beragam persepsi. Ada yang melihatnya sebagai empati, ada pula yang menafsirkannya sebagai konsekuensi dari jabatan. Namun di hadapan tragedi kemanusiaan, perdebatan semacam itu terasa menjadi tidak sepenting rasa kehilangan yang sedang dialami keluarga korban.
Yang lebih penting untuk direnungkan adalah kenyataan bahwa musibah ini bukan sekadar cerita tentang satu anak yang hilang, tetapi tentang rapuhnya keselamatan di ruang-ruang yang kita anggap biasa. Pantai yang indah, senja yang menenangkan, dan tawa anak-anak dapat berubah menjadi kepanikan dalam hitungan detik ketika alam menunjukkan sisi paling sunyinya: kehilangan.
Kehadiran aparat, relawan, tokoh adat, masyarakat, hingga para anggota DPRD di lokasi pencarian adalah gambaran bahwa dalam duka, sekat jabatan seharusnya runtuh. Bahwa di hadapan laut, kita semua sama: kecil, rapuh, dan hanya bisa saling menguatkan.
Dito mungkin belum kembali ke darat. Tetapi dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu diukur dari pidato atau keputusan politik, melainkan dari keberanian untuk hadir di tengah penderitaan orang lain.
Dan barangkali, di tengah sorotan publik yang tak terelakkan, empati tetap menjadi satu-satunya hal yang benar-benar tidak pernah salah.
