Opini

Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil

Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil
POTRET EGIDIUS RONIKUNG

Partisipasi publik pun tidak boleh sekadar formalitas. Masyarakat harus dilibatkan sejak awal sebagai subjek penentu, bukan hanya objek penerima informasi. Mereka harus memiliki hak untuk menerima, mengusulkan, bahkan menolak jika syarat keadilan tidak terpenuhi.

Selain itu, NTT membutuhkan pendekatan energi yang lebih kontekstual. Tidak semua wilayah harus dijawab dengan proyek besar. Pendekatan terdesentralisasi seperti energi surya komunal, mikrogrid, dan inovasi berbasis desa justru lebih sesuai dengan karakter wilayah kepulauan yang tersebar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Dalam seluruh proses ini, peran pemuda menjadi sangat krusial. Pemuda NTT tidak boleh hanya menjadi penonton atau sekadar massa dalam konflik. Mereka harus tampil sebagai penghubung antara pengetahuan teknis dan pengalaman hidup masyarakat.

Pemuda dapat mengambil peran nyata: melakukan pemetaan partisipatif, mendokumentasikan sumber daya lokal, membangun literasi energi yang kritis, hingga mengembangkan forum dialog di tingkat komunitas. Lebih dari itu, mereka harus berani merumuskan solusi—bukan hanya menyuarakan penolakan.

Exit mobile version