Ekonomi

NTP NTT Masih di Atas 100, Tapi Terus Turun: Siapa yang Tertekan di Balik Angka 101,55?

Reporter: Putri |  Editor: Redaksi
ntp-ntt-masih-di-atas-100-tapi-terus-turun-siapa-yang-tertekan-di-balik-angka-10155
NTP NTT Masih di Atas 100, Tapi Terus Turun: Siapa yang Tertekan di Balik Angka 101,55?

Di sektor perikanan, NTP turun 0,45 persen, terutama akibat penurunan harga di subsektor perikanan budidaya. Sementara nelayan tangkap relatif stabil, pembudidaya ikan menghadapi tekanan ganda: harga jual melemah, biaya pakan dan kebutuhan rumah tangga meningkat.

Sebaliknya, beberapa subsektor justru mencatat kenaikan. Tanaman pangan naik 0,67 persen, didorong oleh kenaikan harga jagung dan gabah. Peternakan juga tumbuh 0,41 persen, seiring membaiknya harga sapi potong dan babi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Namun, Matamira mengingatkan bahwa struktur rumah tangga petani di NTT bersifat majemuk.

“Banyak petani mengusahakan lebih dari satu subsektor. Jadi kenaikan di satu sisi belum tentu menutup penurunan di sisi lain,” jelasnya.

NTP: Biaya Hidup Naik, Margin Petani Menyempit

Salah satu faktor kunci di balik turunnya NTP adalah kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). Pada November 2025, Ib naik menjadi 119,42 dari 119,27 pada Oktober 2025.

Kenaikan ini terjadi di seluruh subsektor pertanian, menandakan bahwa tekanan biaya bersifat sistemik, bukan sektoral. Komoditas seperti beras, bawang merah, telur ayam ras, kopi, daging ayam, hingga ikan tongkol dan cakalang menjadi penyumbang utama kenaikan biaya konsumsi rumah tangga perdesaan.

Exit mobile version