Daun kelor yang pernah menggema sebagai ikon pembangunan pertanian Nusa Tenggara Timur pada masa kepemimpinan mantan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, hingga dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan daerah, masih terus dijaga denyut kehidupannya oleh Kelompok Tani Tunas Kadalak. Ketika gaung kelor mulai meredup, kelompok kecil dari Desa Haliklaran ini justru tetap setia merawat semangat tersebut. Bagi mereka, kelor bukan sekadar tanaman pekarangan, melainkan anugerah alam yang mampu diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat desa.
Di balik setiap kemasan teh dan bubuk kelor, tersimpan cerita tentang ketekunan. Daun-daun pilihan dipetik dengan cermat, diolah, dikeringkan, lalu dikemas secara higienis hingga menghasilkan produk berkualitas. Kerja keras itu menjadi bukti bahwa desa tidak pernah kekurangan potensi. Yang dibutuhkan hanyalah dukungan agar potensi tersebut dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Saat ini, teh kelor produksi Kelompok Tani Tunas Kadalak dipasarkan dengan harga Rp35.000 per kemasan, sedangkan bubuk kelor dijual seharga Rp50.000 per kemasan. Produk-produk tersebut menjadi salah satu hasil olahan lokal yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan anggota kelompok sekaligus memperkenalkan potensi Kabupaten Malaka kepada masyarakat yang lebih luas.
