Meski demikian, sebagai kepala keluarga yang sehari-hari bekerja sebagai petani dengan keterbatasan pada bagian kaki, Bapak Dominggus tetap memegang teguh prinsip hidupnya: mengutamakan pendidikan anak di atas segalanya.
“Kami lebih mengutamakan anak sekolah sampai selesai. Biarlah rumah ini seperti ini dulu, yang penting anak bisa kuliah dan meraih masa depan yang lebih baik,” ungkapnya kepada Reformanews.com.
Selama kurang lebih satu dekade, keluarga ini bertahan dalam kondisi tersebut tanpa memiliki pilihan lain. Risiko keselamatan akibat kondisi rumah yang rapuh pun terus membayangi, terutama saat cuaca ekstrem melanda.
Melihat kondisi ini, masyarakat setempat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik Pemerintah Desa Renrua maupun Pemerintah Kabupaten Belu melalui dinas terkait. Bantuan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dinilai sangat mendesak bagi keluarga ini.
Selain sebagai warga kurang mampu, status Bapak Dominggus sebagai penyandang disabilitas menjadi pertimbangan penting untuk mendapatkan prioritas bantuan. Dedikasinya dalam mendukung pendidikan anak hingga ke jenjang tinggi di tengah keterbatasan juga menjadi cerminan semangat yang patut diapresiasi.
