Berita

Dari Buruh Bangunan ke Baret Merah: Perjuangan Sunyi Petrus Manuel yang Menggetarkan

Reporter: Putri B.  |  Editor: Redaksi
dari-buruh-bangunan-ke-baret-merah-perjuangan-sunyi-petrus-manuel-yang-menggetarkan
Dari Buruh Bangunan ke Baret Merah: Perjuangan Sunyi Petrus Manuel yang Menggetarkan

Lima kali ia mengikuti tes, lima kali pula harus pulang dengan tangan kosong. Setiap kepulangan selalu disertai tatapan iba dari keluarga. Namun Petrus tak pernah menyalahkan keadaan.

Ia kembali bekerja sebagai buruh bangunan. Mengangkat batu, mencampur semen, memanggul kayu. Upah harian yang tak seberapa itu bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk membiayai upaya berikutnya mengejar mimpi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

“Kalau gagal, dia tidak pernah marah atau putus asa. Dia cuma bilang, ‘Beta coba lagi,’” kenang kakaknya, Fridz.

Ketika kegagalan kelima datang, keluarga menyarankan agar ia mencoba jalur lain, termasuk kepolisian. Namun Petrus menolak dengan halus. Baginya, cita-cita bukan perkara coba-coba.

Jalan Sunyi yang Dipilih Sendiri

Tahun 2025, tanpa banyak bercerita, ia mendaftar melalui jalur Bintara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Kali ini, nasib berpihak. Ia dinyatakan lulus dan mengikuti pendidikan hingga pelantikan yang dijadwalkan pada 6 September 2025.
Namun takdir kembali menghadangnya. Pada 2 September 2025, empat hari sebelum pelantikan, ibu kandungnya meninggal dunia.

Exit mobile version