Example floating
Example floating
Berita

Cinta Tak Berpakaian Gender : Kritik Atas Glorifikasi Ayah di Tahun Ajaran Baru

Avatar photo
×

Cinta Tak Berpakaian Gender : Kritik Atas Glorifikasi Ayah di Tahun Ajaran Baru

Sebarkan artikel ini
IMG 20250711 164339

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Oleh: Seprianus A. Nenotek

Dosen Universitas Kristen Artha Wacana – Kupang, NTT

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

 

Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Sekolah kembali membuka pintunya, anak-anak mengenakan seragam dengan penuh semangat dan membawa harapan baru, sementara para orang tua bersiap mendampingi mereka memasuki fase penting dalam hidup. Himbauan pun kembali disuarakan oleh para pemangku kepentingan dari gubernur, bupati, hingga wali kota—untuk menyukseskan kampanye “Ayah Mengantar Anak ke Sekolah.”

Baca Juga :  5 Gol Ponain, Sanam Cetak 1 Gol Saat Lawan Timor United

Namun di balik narasi yang manis dan menyentuh itu, terdapat pertanyaan yang layak diajukan: mengapa ketika seorang ayah melakukan tindakan pengasuhan yang biasa dilakukan oleh ibu setiap hari, ia seolah-olah menjadi pahlawan? Apakah kampanye ini benar-benar mendorong kesetaraan peran pengasuhan, atau justru menyimpan glorifikasi tersembunyi yang menegaskan bias lama dalam kemasan simbolik yang baru?

Baca Juga :  Dukung Total! Marsma TNI Djoko Hadipurwanto Apresiasi Turnamen Voli EIS CUP II Cetak Bibit Unggul NTT

Kampanye ini pertama kali diinisiasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Anies Baswedan, pada tahun 2015 melalui peluncuran “Gerakan Mengantarkan Anak ke Sekolah.” Setahun kemudian, kampanye ini diperkuat melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2016 yang menyerukan kepada seluruh kepala daerah dan sekolah untuk memberikan dispensasi bagi para orang tua terutama ayah agar dapat hadir mengantar anak di hari pertama masuk sekolah.

Example floating