Saat dihubungi Reformanews.com melalui WhatsApp, Kamis (24/04/2026), Kamelia mengaku seluruh perjuangan itu dijalani dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan.
“Saya percaya pendidikan itu jembatan untuk mengubah masa depan. Lelah pasti ada, menangis juga pernah, tetapi saya tidak mau menyerah,” ujar Kamelia.
Ia menuturkan, banyak malam yang harus dilalui tanpa tidur karena mengerjakan tugas kuliah sambil menjaga anak-anak yang sakit atau rewel. Namun, kondisi itu justru menjadi penyemangat untuk terus bertahan.
“Saya ingin anak-anak saya kelak melihat ibunya berjuang. Saya mau mereka tahu bahwa perempuan juga bisa sekolah tinggi dan berhasil,” katanya.
Kamelia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada suami, keluarga di Papua, dosen, dan teman-teman kampus yang terus memberi dukungan selama masa studinya.
Menurutnya, tanpa doa dan bantuan banyak pihak, perjuangan tersebut tidak akan mudah dilewati.
Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Keperawatan, Kamelia berencana kembali ke Papua untuk mengabdi di daerah asalnya. Ia ingin membantu meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman.
