“Semoga cuaca tidak lagi dijadikan kambing hitam. Kalau ada keseriusan, pasti ada langkah konkret yang bisa dilihat dan dirasakan langsung,” lanjutnya.
Menurut Melfridus, kondisi jalan menuju kampus yang rusak bukanlah persoalan baru. Masalah tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya penyelesaian yang jelas, sehingga berdampak langsung pada aktivitas perkuliahan serta mobilitas masyarakat.
“Ini masalah lama yang terus berulang. Jalan rusak ini bukan hanya mengganggu aktivitas mahasiswa, tapi juga mencerminkan kurangnya perhatian terhadap sektor pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti komitmen pemerintah daerah yang dinilai belum sepenuhnya terbukti melalui realisasi program di lapangan. Ia menyinggung adanya sejumlah program kerja yang hingga kini belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.
“Jangan sampai ini hanya jadi janji politik yang manis di bibir, tapi pahit di rasa. Kami tidak ingin janji tinggal janji, apalagi kalau melihat masih banyak program kerja yang belum jelas realisasinya,” ungkapnya dengan nada kritis.
